Ambisi serta Ambisius
Apa perbedaan Ambisi dan Ambisius?
Mungkin ada yang bilang itu sama, ada yang bilang juga itu berbeda. Sebenarnya itu memiliki dua makna yang berbeda.
Ambisi bisa dikatakan adalah suatu keinginan kuat untuk mencapai sesuatu. Sedangkan Ambisius adalah sikap berlebihan yang dilakukan untuk mencapai mimpi yang diharapkan. Memiliki ambisi itu baik tetapi apakah memiliki sifat Ambisius juga baik?
Saat menjadi mahasiswa saya berusana mengadaptasikan diri dengan lingkungan baru tersebut, mencoba bertransformasi menjadi Mahasiswa yang Seutuhnya. Dengan segala pemikiran kritisnya dan dengan segala hal yang harus menjadikan kita sebagai seorang Mahasiswa.
Waktu pertama kali masuk dalam lingkungan Kampus saya mengenal beberapa istilah baru, seperti Kosma dan Presma. Kosma adalah sebutan bagi ketua kelas, sedangkan Presma adalah singkatan dari Presiden Mahasiswa yang merupakan ketua dari organisasi intra kampus yang sering dinamakan BEM atau Badan Eksekutif Mahasiswa.
Tentunya hal seperti ini tidak asing lagi bagi kita yang sudah sekolah selama 12 Tahun lamanya. Presma dan ketua OSIS Memiliki peran yang sama hanya saja nama dan cakupan tugasnya sedikit berbeda.
Bisa dikatakan Presma adalah titik dimana kita benar-benar belajar menjadi seorang ketua yang akan teraplikasi saat kita sudah lulus. Bayangkan saja, saat menjadi Presma kita menjadi pemimpin dari ratusan atau bahkan ribuan Mahasiswa dengan ideologi berbeda dan sifat kritisnya, kita menjadi pemimpin dari kaum yang sering dikatakan kaum intelektual.
Saat melihat hal itu hati saya langsung tergerak, saya ingin menjadi seperti Presiden Mahasiswa itu, saya ingin menjadi seorang pemimpin. Saya ingin memberikan kontribusi terhadap kelompok yang saya pimpin.
Karna keinginan kuat tersebut akhirnya saya memberanikan diri mencalonkan menjadi seorang Kosma (Ketua Kelas), sayang nya pada saat itu, pada saat awal masuk ke kampus dan menjadi seorang mahasiswa, dikelas saya tidak ada yang mau mencalonkan diri ke depan menjadi seorang Kosma dan hanya saya yang penuh semangat terhadap hal itu, akhirnya saya dipilih langsung menjadi Kosma.
Dimasa jabatan saya menjadi seorang Kosma saya mengajukan program-program yang harus dilakukan oleh masyarakat kelas saya, usulan saya ada yang disetujui ada juga yang tidak. Saya berusaha tidak memaksakan kehendak berlebihan agar teman-teman sya tidak teralu terkekang.
Hingga waktu terus bergulir, semua program yang saya rencanakan berjalan dengan lancar tetapi ternyata tidak semua menyukai hal tersebut. Salah satu teman terdekat saya pernah mengajak saya berbicara empat mata. Dia mengatakan bahwa sistem pemetintahan yang saya jalankan terlalu otoriter, saya terlalu memaksakan teman-teman yang lain supaya mengikuti kemauan saya, banyak teman-teman yang tidak suka tetapi terpaksa mengikuti.
Saat itu saya terkejut, tidak menyangka bahwa teman-teman yang lain sebenarnya tidak menyukai sistem pemerintahan saya. Memang benar setiap kali ada program saya terus meotivasi mereka setiap hari. Baik itu di grup Whatsup dan lainnya. Saya selalu menginfokan terhadap program-program tersebut, saya hanya ingin memastikan program tersebut berjalan dengan semestinya. Bahkan entah kenapa saat beberapa program belum terlaksana saya sudah mengajukan program lainnya. Hal itu katanya membuat teman-teman yang lainnya jengkel, tetapi mereka tidak pernah membicarakannya secara langsung.
Hingga setelah pergantian semester dilakukan, teman-teman mengusulkan nama lain sebagai ketua kelas (Kosma) yang baru, hal itu membuat saya syok dan sakit hati. Kemudian teman saya memberikan saran bahwa memiliki Ambisi itu bagus, tetapi terlalu Ambisius akan membuat orang disekitar tidak terlalu nyaman.
Dari pengalaman tersebut saya mendapat pemahaman baru bahwa Ambisius itu harus memiliki batasan dan pemikiran yang rasional, jangan sampai terlalu Ambisius tetapi jangan juga terlalu hidup tanpa adanya Ambisi. Kita harus bisa mengukur kemampuan dan keinginan kita, jangan sampai untuk mencapai mimpi kita, kita lupa akan mimpi dan kehidupan orang-orang disekitar kita.
Mungkin ada yang bilang itu sama, ada yang bilang juga itu berbeda. Sebenarnya itu memiliki dua makna yang berbeda.
Ambisi bisa dikatakan adalah suatu keinginan kuat untuk mencapai sesuatu. Sedangkan Ambisius adalah sikap berlebihan yang dilakukan untuk mencapai mimpi yang diharapkan. Memiliki ambisi itu baik tetapi apakah memiliki sifat Ambisius juga baik?
Saat menjadi mahasiswa saya berusana mengadaptasikan diri dengan lingkungan baru tersebut, mencoba bertransformasi menjadi Mahasiswa yang Seutuhnya. Dengan segala pemikiran kritisnya dan dengan segala hal yang harus menjadikan kita sebagai seorang Mahasiswa.
Waktu pertama kali masuk dalam lingkungan Kampus saya mengenal beberapa istilah baru, seperti Kosma dan Presma. Kosma adalah sebutan bagi ketua kelas, sedangkan Presma adalah singkatan dari Presiden Mahasiswa yang merupakan ketua dari organisasi intra kampus yang sering dinamakan BEM atau Badan Eksekutif Mahasiswa.
Tentunya hal seperti ini tidak asing lagi bagi kita yang sudah sekolah selama 12 Tahun lamanya. Presma dan ketua OSIS Memiliki peran yang sama hanya saja nama dan cakupan tugasnya sedikit berbeda.
Bisa dikatakan Presma adalah titik dimana kita benar-benar belajar menjadi seorang ketua yang akan teraplikasi saat kita sudah lulus. Bayangkan saja, saat menjadi Presma kita menjadi pemimpin dari ratusan atau bahkan ribuan Mahasiswa dengan ideologi berbeda dan sifat kritisnya, kita menjadi pemimpin dari kaum yang sering dikatakan kaum intelektual.
Saat melihat hal itu hati saya langsung tergerak, saya ingin menjadi seperti Presiden Mahasiswa itu, saya ingin menjadi seorang pemimpin. Saya ingin memberikan kontribusi terhadap kelompok yang saya pimpin.
Karna keinginan kuat tersebut akhirnya saya memberanikan diri mencalonkan menjadi seorang Kosma (Ketua Kelas), sayang nya pada saat itu, pada saat awal masuk ke kampus dan menjadi seorang mahasiswa, dikelas saya tidak ada yang mau mencalonkan diri ke depan menjadi seorang Kosma dan hanya saya yang penuh semangat terhadap hal itu, akhirnya saya dipilih langsung menjadi Kosma.
Dimasa jabatan saya menjadi seorang Kosma saya mengajukan program-program yang harus dilakukan oleh masyarakat kelas saya, usulan saya ada yang disetujui ada juga yang tidak. Saya berusaha tidak memaksakan kehendak berlebihan agar teman-teman sya tidak teralu terkekang.
Hingga waktu terus bergulir, semua program yang saya rencanakan berjalan dengan lancar tetapi ternyata tidak semua menyukai hal tersebut. Salah satu teman terdekat saya pernah mengajak saya berbicara empat mata. Dia mengatakan bahwa sistem pemetintahan yang saya jalankan terlalu otoriter, saya terlalu memaksakan teman-teman yang lain supaya mengikuti kemauan saya, banyak teman-teman yang tidak suka tetapi terpaksa mengikuti.
Saat itu saya terkejut, tidak menyangka bahwa teman-teman yang lain sebenarnya tidak menyukai sistem pemerintahan saya. Memang benar setiap kali ada program saya terus meotivasi mereka setiap hari. Baik itu di grup Whatsup dan lainnya. Saya selalu menginfokan terhadap program-program tersebut, saya hanya ingin memastikan program tersebut berjalan dengan semestinya. Bahkan entah kenapa saat beberapa program belum terlaksana saya sudah mengajukan program lainnya. Hal itu katanya membuat teman-teman yang lainnya jengkel, tetapi mereka tidak pernah membicarakannya secara langsung.
Hingga setelah pergantian semester dilakukan, teman-teman mengusulkan nama lain sebagai ketua kelas (Kosma) yang baru, hal itu membuat saya syok dan sakit hati. Kemudian teman saya memberikan saran bahwa memiliki Ambisi itu bagus, tetapi terlalu Ambisius akan membuat orang disekitar tidak terlalu nyaman.
Dari pengalaman tersebut saya mendapat pemahaman baru bahwa Ambisius itu harus memiliki batasan dan pemikiran yang rasional, jangan sampai terlalu Ambisius tetapi jangan juga terlalu hidup tanpa adanya Ambisi. Kita harus bisa mengukur kemampuan dan keinginan kita, jangan sampai untuk mencapai mimpi kita, kita lupa akan mimpi dan kehidupan orang-orang disekitar kita.
Komentar
Posting Komentar