Tameng Rindu Ditengah Wabah
Suara percakapan terdengar jelas dari laptop, terasa dekat tetapi sebenarnya jauh. Setelah beberapa menit akhirnya Aziz menutup laptopnya, percakapan berakhir dan pertemuan semakin dirindukan.
Aziz pergi kedapur, mengobrak-abrik lemari makanan kemudian menjajah bakul nasi, lalu setelah itu dia membawa piring berisi makan siangnya kedepan tv. Aziz menonton tv sambil makan.
"Bagaimana kuliah onlinenya nak, sudah beres?" Kata Mamahnya. Aziz masih sibuk mengunyah nasi.
"Sudah Mah"
"Syukur kalau begitu"
"Iya" balasnya singkat kemudian melanjutkan makan.
Setelah 10 menit berlalu dia selesai makan siang. Kegiatannya tidak banyak kali ini, selain makan, adalah tidur, menonton Tv, mengerjakan tugas, mengikuti kuliah online, makan lagi dan kegiatan tersebut terus berulang setiap harinya. Dia harus terpenjara dirumah dengan berbagai kesenggangan yang menerpa, dan semua adalah ulah dari si wabah yang dinamakan covid-19 atau corona.
Sore menjelang, mendung menghiasi langit, gemuruh berkumandang silih berganti, tak beberapa lama hujan menyerang bumi tanpa ampunnya. Listrik pun padam, Aziz terpaksa berinteraksi kembali dengan sunyi. Dia kemudian masuk kekamar dan memainkan hpnya.
Dia tertawa tiada hentinya saat bercengkrama dengan teman-teman lainnya di whatsup. Begitu menyenangkan, setidaknya menjadi obat ditengah kesepian yang diakibatkan oleh teror wabah tersebut. Begitulah setiap harinya, saat batre Hp Aziz mulai berkurang dia harus kehilangam kebersamaannya lagi dengan teman-teman kampusnya.
Hari demi hari berlalu, emosi kian tak terkendali. Stress terkadang menerpa Aziz karena keresahan dalam diri. Dia merasa tidak bisa seperti ini setiap harinya, saat kuliah memang setiap orang akan menginginkan liburan, tetapi bukan libur tanpa interaksi seperti ini yang diinginkan. Libur dan terisolasi dari manusia lain, tanpa cengkrama dan canda.
Penyelasanpun mulai menerpa, tentang dirinya yang tidak bisa memanfaatkan pertemuan dan kebersamaan. Tentang dirinya yang dahulu lebib banyak menghabiskan waktu didunia maya daripada didunia nyata bersama orang-orang tercintanya, tentang dirinya yang lebih banyak menghabiskan masa dengan hp dibanding manusia lainnya.
Kini dia sadar dan merasa berdosa, bahwa ada masanya saat satu manusia dijauhkan dengan manusia lain jiwanya akan memberontak, berusaha agar ditemani dengan canda dan tawa.
Dihari berikutnya...
"Oke anak-anak, kita akan memulai lagi perkuliahan online kali ini" kata Seorang dosen di layar Laptop.
"Siap pak" jawab semua serentak. Kecuali Aziz.
Kemudian setelah itu pembelajaran pun dimulai. Tetapi ada yang salah akan itu, tidak semua orang benar-benar belajar, tidak semua orang benar-benar belajar, tidak semua orang benar-benar nyaman.
Aziz menutup laptopnya dan berlari menuju ruang tengah rumah. Kemarau dimatanya berakhir bersamaan dengan detak jam yang terus bergulir. Dia menangis dalam ketidak jelasan. Mendengar hal itu ibunya menghampiri.
"Ada apa nak?" Tanya ibunya. Aziz tidak menjawab
"Aku...aku rindu kebersamaan Mah" lirih Aziz. Ibunya tersenyum lalu memeluknya.
"Sabar sayang, mungkin ini cobaan dari Allah, untuk semua umat manusia, dengan didatangkannya wabah seperti ini mungkin Allah ingin memberitahu kita akan pentingnya beribadah dan interaksi sesama umatnya"
"Ta-tapi mah, kapan ini akan berakhir" kata Aziz lagi. Ibunya Mengusap punggung Aziz.
"Hanya Allah yang tau, saat ini yang harus kita lakukan adalah memperbanyak ibadah dan melakukan anjuran-anjuran agar terjauh dari penyakit itu" jawab Mamahnya. Aziz semakin menggerung. Kini dia mendapat satu pemaham lagi bahwa jangan pernah menyianyiakan waktu bersama orang-orang yang terkasihnya. Aziz kemudian memeluk ibunya dan ibunya membalas pelukan anaknya.
Aziz pergi kedapur, mengobrak-abrik lemari makanan kemudian menjajah bakul nasi, lalu setelah itu dia membawa piring berisi makan siangnya kedepan tv. Aziz menonton tv sambil makan.
"Bagaimana kuliah onlinenya nak, sudah beres?" Kata Mamahnya. Aziz masih sibuk mengunyah nasi.
"Sudah Mah"
"Syukur kalau begitu"
"Iya" balasnya singkat kemudian melanjutkan makan.
Setelah 10 menit berlalu dia selesai makan siang. Kegiatannya tidak banyak kali ini, selain makan, adalah tidur, menonton Tv, mengerjakan tugas, mengikuti kuliah online, makan lagi dan kegiatan tersebut terus berulang setiap harinya. Dia harus terpenjara dirumah dengan berbagai kesenggangan yang menerpa, dan semua adalah ulah dari si wabah yang dinamakan covid-19 atau corona.
Sore menjelang, mendung menghiasi langit, gemuruh berkumandang silih berganti, tak beberapa lama hujan menyerang bumi tanpa ampunnya. Listrik pun padam, Aziz terpaksa berinteraksi kembali dengan sunyi. Dia kemudian masuk kekamar dan memainkan hpnya.
Dia tertawa tiada hentinya saat bercengkrama dengan teman-teman lainnya di whatsup. Begitu menyenangkan, setidaknya menjadi obat ditengah kesepian yang diakibatkan oleh teror wabah tersebut. Begitulah setiap harinya, saat batre Hp Aziz mulai berkurang dia harus kehilangam kebersamaannya lagi dengan teman-teman kampusnya.
Hari demi hari berlalu, emosi kian tak terkendali. Stress terkadang menerpa Aziz karena keresahan dalam diri. Dia merasa tidak bisa seperti ini setiap harinya, saat kuliah memang setiap orang akan menginginkan liburan, tetapi bukan libur tanpa interaksi seperti ini yang diinginkan. Libur dan terisolasi dari manusia lain, tanpa cengkrama dan canda.
Penyelasanpun mulai menerpa, tentang dirinya yang tidak bisa memanfaatkan pertemuan dan kebersamaan. Tentang dirinya yang dahulu lebib banyak menghabiskan waktu didunia maya daripada didunia nyata bersama orang-orang tercintanya, tentang dirinya yang lebih banyak menghabiskan masa dengan hp dibanding manusia lainnya.
Kini dia sadar dan merasa berdosa, bahwa ada masanya saat satu manusia dijauhkan dengan manusia lain jiwanya akan memberontak, berusaha agar ditemani dengan canda dan tawa.
Dihari berikutnya...
"Oke anak-anak, kita akan memulai lagi perkuliahan online kali ini" kata Seorang dosen di layar Laptop.
"Siap pak" jawab semua serentak. Kecuali Aziz.
Kemudian setelah itu pembelajaran pun dimulai. Tetapi ada yang salah akan itu, tidak semua orang benar-benar belajar, tidak semua orang benar-benar belajar, tidak semua orang benar-benar nyaman.
Aziz menutup laptopnya dan berlari menuju ruang tengah rumah. Kemarau dimatanya berakhir bersamaan dengan detak jam yang terus bergulir. Dia menangis dalam ketidak jelasan. Mendengar hal itu ibunya menghampiri.
"Ada apa nak?" Tanya ibunya. Aziz tidak menjawab
"Aku...aku rindu kebersamaan Mah" lirih Aziz. Ibunya tersenyum lalu memeluknya.
"Sabar sayang, mungkin ini cobaan dari Allah, untuk semua umat manusia, dengan didatangkannya wabah seperti ini mungkin Allah ingin memberitahu kita akan pentingnya beribadah dan interaksi sesama umatnya"
"Ta-tapi mah, kapan ini akan berakhir" kata Aziz lagi. Ibunya Mengusap punggung Aziz.
"Hanya Allah yang tau, saat ini yang harus kita lakukan adalah memperbanyak ibadah dan melakukan anjuran-anjuran agar terjauh dari penyakit itu" jawab Mamahnya. Aziz semakin menggerung. Kini dia mendapat satu pemaham lagi bahwa jangan pernah menyianyiakan waktu bersama orang-orang yang terkasihnya. Aziz kemudian memeluk ibunya dan ibunya membalas pelukan anaknya.
Semoga wabah pasti brlalu
BalasHapus