Kaum perantau
Begitu banyak yang dirindukan saat kamu mulai merantau. Jauh dari rumah dan jauh dari keluarga. Semua seakan kamu memulai kembali kisah hidup kami dari awal, dari nol. Dengan semua senang dan sedih yang menerpa.
Kamu harus berjuang lebih keras dari yang lain. Kamu harus berusaha lebih dari yang lain. Kamu harus rajin dari yang lain. Kamu harus lebih ramah dari yang lain. Itulah mungkin kata yang cocok disematkan untuk kaum perantau.
Saat merantau kita harus rela menabung rindu yang berkepanjangan dan setiap hari harus terkadang akan merasaka sedih yang tersirat begitu saja. Saat melihat teman-temanmu bisa bercengkrama dengan keluarganya, saat temanmu bisa berdiam santai dirumah tercintanya tanpa harus merasakan hal yang sama denganmu, jauh dari kehangatan keluarga.
Kita juga harus lebih mengakrabkan diri, karena hakikatnya kita begitu asing di tempat perantauan. Kita harus lebih bisa cepat beradaptasi dengan lingkungan, menjadi ramah dan suka menolong adalah identitas yang harus kita miliki.
Hal tersebut tentunya semata-mata agar kita merasakan kehangat keluarga lagi, kebersamaan keluarga yang mencoba kita ciptakan dengan manusia lain. Meskipun memiliki rasa yang berbeda tetapi setidaknya hal itu bisa menjadi penawar dari rindu kita yang menggunung terhadap kampung halaman.
Tetapi disamping semua hal yang menyayat hati itu, ada satu hal yang perlu kaum perantau ketahui. Bahwa hal tersebut bisa menjadi persenjataan untuk kita menghadapi kerasnya kehidupan. Dengan merantau suatu hari nanti kita akan mulai bisa menerima tentang semua hal yang pergi dari hidup kita. Kebahagiaan yang tiba-tiba sirna adalah perapuh semangat no 1 didunia. Dengan merantau kita akan berlatih menjadi tangguh, berjiwa kuat dan bermental baja. Karena sejatinya hidup ini akan selali dipenuhi oleh kesedihan-kesedihan, sedangkan bahagia adalah pelipur lara dari berjuta sedih yang hadir di dunia. Satu kalimat yang ingin saya sampaikan kepada kalian kaum perantau.
"Selamat karena kalian sudah maju ke barisan depan perang kehidupan"
Kamu harus berjuang lebih keras dari yang lain. Kamu harus berusaha lebih dari yang lain. Kamu harus rajin dari yang lain. Kamu harus lebih ramah dari yang lain. Itulah mungkin kata yang cocok disematkan untuk kaum perantau.
Saat merantau kita harus rela menabung rindu yang berkepanjangan dan setiap hari harus terkadang akan merasaka sedih yang tersirat begitu saja. Saat melihat teman-temanmu bisa bercengkrama dengan keluarganya, saat temanmu bisa berdiam santai dirumah tercintanya tanpa harus merasakan hal yang sama denganmu, jauh dari kehangatan keluarga.
Kita juga harus lebih mengakrabkan diri, karena hakikatnya kita begitu asing di tempat perantauan. Kita harus lebih bisa cepat beradaptasi dengan lingkungan, menjadi ramah dan suka menolong adalah identitas yang harus kita miliki.
Hal tersebut tentunya semata-mata agar kita merasakan kehangat keluarga lagi, kebersamaan keluarga yang mencoba kita ciptakan dengan manusia lain. Meskipun memiliki rasa yang berbeda tetapi setidaknya hal itu bisa menjadi penawar dari rindu kita yang menggunung terhadap kampung halaman.
Tetapi disamping semua hal yang menyayat hati itu, ada satu hal yang perlu kaum perantau ketahui. Bahwa hal tersebut bisa menjadi persenjataan untuk kita menghadapi kerasnya kehidupan. Dengan merantau suatu hari nanti kita akan mulai bisa menerima tentang semua hal yang pergi dari hidup kita. Kebahagiaan yang tiba-tiba sirna adalah perapuh semangat no 1 didunia. Dengan merantau kita akan berlatih menjadi tangguh, berjiwa kuat dan bermental baja. Karena sejatinya hidup ini akan selali dipenuhi oleh kesedihan-kesedihan, sedangkan bahagia adalah pelipur lara dari berjuta sedih yang hadir di dunia. Satu kalimat yang ingin saya sampaikan kepada kalian kaum perantau.
"Selamat karena kalian sudah maju ke barisan depan perang kehidupan"
Komentar
Posting Komentar