Keterpurukan diriku

 Ketika aku terpuruk Semua seakan terasa hancur begitu saja. Kegilaan seketika menggerayangi tubuh ini dan bahkan pikiranki tidak bisa aku kontrol seutuhnyA. Hal itu aku rasakan saat kehilangan sosok yang sangat berharga bagiku, saat aku kehilangan Ayahku.

Aku masih ingat saat itu, 2 tahun yang lalu dimana dia berhenti menatap dan berbicara kepadaku. Saat dimana ayahku hanya terbaring kaku dengan kulit yang mendingin. Saat pertama kali melihat hal itu hatiku terasa tersayat, berjuta kesedihan kemudian menjalar kesetiap relung hatiku layaknya sebuah virus yang mengkontaminasi diriku. Tetapi ada satu hal yang membuat aku merasa sangat bingung sampai saat ini. Hal itu adalah dimana saat Ayahku berbaring kehilangan nyawanya, kemarau dimataku justru tidak berakhir, dengan tatapan kosong da hati yang gempa aku sama sekali tidak menangis, air mataku tidak membanjiri pipi seperti orang-orang yang berada disana.

Apakah semua itu Tuhan. Apakah aku tidak menyanyagi Ayahku seutuhnya sehingga air mata tidak menjadi visual kesedihanku saat kepergiannya. Atau apakah sebagai seorang laki-laki hal itu justru merupakan hal lazim?

Seangkasa tanya selalu menghantui pikiranku sejak hari itu. Tetapi yang jelas adalah bahwa saat kepergiannya hatiku benar-benar dilanda gempa, gempa guncangan mental yang membuat aku merasa tidak stabil. Selain hatiku yang terasa sesak dan pedih adalah pikiranku yang tidak bisa berhenti memikirkan tentang semua kenangan bersama ayahku. Seseorang yang selalu begitu dekat denganku, mengajari semua yang dia ketahui agar aku menjadi seperti dirinya. Menjadi laki-laki sejati.

Sejak saat itu, sejak kematiannya. Aku menjadi lebih pendiam dari biasanya. Aku takut untuk keluar rumah. Hatiku mengatakan aku tidak siap, bahwa saat itu akulah yang akan menjadi pelindung bagi ibuku. Akulah yang harus memastikan ibuku tetap sehat dan mendapatkan biaya untuk menjalani hidup kedepanya, akulah yang akan menjadi tulang punggung keluarga yang baru.

Tentunya kepergian Ayahku memberi dampak yang besar bagi kehidupanku. Karena kamatiannya juga salah satu dampak terbesar adalag bahwa aku harus kehilangan saah satu impian terbesarku, impanku yang aku gantungkan setinggi angkasa. Impianku ingin berkuliah.

Ya. Ayahku wafat tepat saat 1 bulan aku lulus sekolah Menengah Atas (SMA). Hal itu juga yang membuat batinku berguncang. Aku merasa bahkan belum bisa memberikan apa-apa kepadanya selama ini. Aku merasa bahwa aku hanya membebankan hidupku saja. Selama 19 tahun lamanya aku belum pernah memberikan sesuatu yang berarti kepada kedua orangtua ku. Hingga saat itu tiba. Saat dimana Ayahku harus berpamitan kepadaku dan mamah untuk menuju kepadaNya lebih dahulu.

Aku terlahir menjadi anak ke 3 dari 3 orang bersaudara. Aku adalah anak bungsu. Kedua kakakku adalah perempuan. Dan seperti yang bisa kalian duga. Apa yang bisa mereka lakukan banyak untuk membantu menyelesaikan masalahku. Maksudku, mereka sudah memiliki kehidupanya masing-masing, bersama suami mereka dan tentunya anak-anak mereka. Mereka tidak akan membantu banyak dalam perekonomian Ibu dan Aku. Mereka bahkan harus bergantung pada suaminya masing-masing.

Dan tentunya itu yang menjadi beban tanggung jawabku. Sebagai seorang laki-laki dikeluarga ini aku lah yang menjadi tombak kesuksesan keluarga, aku adalah harapan dan tentunya kebanggaan bagi keluarga. Aku bahkan menjadi anak yang menadapat pendidikan paling tinggi yaitu sampai SMA. Kedua kakakku hanya bisa disekolahkan sampai SD dan SMP. Dan sebenarnya aku ingin melanjutkan studiku sampai kuliah tetapi itu semua harus aku lepaskan begitu saja. Karena aku punya tanggung jawab. Karena aku punya takdir yang harus kujalani. Sebagai tulang punggung keluarga.

Hingga 2 bulan kepulangan Ayahku kepadaNya aku memutuskan untuk merantau. Menjemput takdirku sebagai tulang punggung keluarga yang baru yang harus membiayai hidupku dan hidup mamahku. Aku harus bertransformasi menjadi laki-laki yang dewasa yang mulai merintis perjalanan meniti kehidupan sesungguhnya.


Komentar

  1. Akan ada pelangi setelah hujan, itu yang aku yakini dari lanjutan kisah ini 🙂

    BalasHapus

Posting Komentar