Keajaiban pembalik keadaan

Hanya doa dan doa yang aku bisa panjatkan untuk membuat hidupku menjadi lebih baik. Setidaknya hanya itu modal diriku untuk tetap bisa dekat denganNya.

Setiap hari. Setiap Matahari berganti lelah dengan bulan untuk menyinari bumi, setiap waku itulah doaku selalu menghiasi relung kesadaran. Aku selalu yakin selalu ada tangga perubahan dalam setiap hidup manusia. Meskipun memang tangga itu harus dinaiki satu persatu dengan berbagai hapang rintang yang menaungi.

Ditengah kesibukanku sebagai pegawai ditoko sepatu aku selalu menguatkan mimpi itu. Pernah suatu ketika ada seorang mahasiswa yang datang ke toko untuk membeli sepatu. Dia adalah seorang mahasiswa prodi Bahasa Indonesia di kampus yang ada didepok. Aku sangat senang waktu itu, ada seorang yang sudah mereflesikan mimpiku menjadi seorang mahasiswa.

Ditengah kegiatan jual beli tersebut aku dengan tak karuannya bertanya ini itu seputar mahasiswa. Tentang apa saja kegiatan mahasiswa dan lain sebagainya. Hingga waktu terus berlalu dan mahasiswa tadi selesai berbelanja.

Setelah toko sepi kemudian Bos toko ku memanggilku. Aku memang bekerja di toko sepatu, toko sepatu yang terbilang lumayan kecil. Bosku adalah orang padang yang merantau, dia dan keluarganya adalah pebisnis dibidang penjualan sepatu dan tas. Ditoko miliknya aku bekerja bertiga, yaitu dengan keponakannya dan dia sendiri.

Jadi secara jelasnya adalah bahwa bosku juga bekerja berjualan ditoko tersebut. Karena tokonya lumayan kecil untuk sebuah ruang kota Depok. Setiap hari kamu berbagi ruang untuk menjual barang dagangan.

Setelah di panggil aku menghampiri bosku. Dia memikirkan sesuatu, mungkin memikirkan tentang kata apa yang cocok diucapkan. Setelah beberapa menit aku termangu menunggu jawabannya dia pun berucap.

"Kamu tau enggak yang jualan dan servise hp kecil-kecilan" katanya
"Iya tau bang, saya sering lihat saat mau membeli makanan"
"Nah bagus kalo kamu tau, tetapi kamu tau enggak hal lain tentang dia" lanjutnya.
"Apa itu bang?"tanyaku heran
"Dia itu lulusan kuliah, dia lulus beberapa tahun yang lalu, tetapi kamu bisa melihatnya dengan jelaskan, sekaramg dia hanya menjadi penjual dan penyervis Hp, penghasilannya bahkan tidak lebih banyak dari Abang yang hanya lulusan SMA. Kamu bisa lihat persamaan dan perbedaannya kan? Kamu bisa tau maknanya kan?" Cecarnya. Sementara aku hanya terdiam mematung mendengar itu, entah kenapa hatiku mulai bergetar mendengar hal tersebut. Diamnya diriku karena perkataan bosku itu disaksikan oleh keponakan bosku yang menatapku lekat.

"Biar Abang jelaskan lebih rinci. Maksud abang adalah bahwa kuliah itu tidak terlalu berguna, maksud abang adalah nasib setiap orang tentunya akan berbeda-beda, ada yang baik dan tidak. Contohnya seperti penjual Hp tadi, dia lulusan Kuliah tetapi sekarang hanya menjadi penjual dikonter sederhana yang kecil untuk dikota depok. Kamu bisa melihatnya kan? Keberhasilan seseorang selain ditunjanh oleh pendidikan juga harus ditunjang oleh keadaan kelurga, maksud abang adalah jika keluarganya dari sejak dulu selalu berada di posisi-posisi puncak maka dia akan memastikan keturunannya juga bisa seperti dia kan? Kamu lihat orang-orang politik? Mereka semua pasti selain ditunjang pendidikan juga ditunjang oleh status keluarga, mereka mengandalkan latar belakang keluarganya untuk menang, menang dalam persaingan perjuangan mimpi pada hidup ini" jelas bosku dengan mantapnya. Aku hanya bisa mengedipkan dam bernafas saja waktu itu, kemudian dengan segenap keyakinan aku berusaha membalas ucapannya.
"Lalu bagaimana dengan bermodal kerja keras bang?" Tanyaku datar. Bosku menatapku dalam, dia memejakan mata lalu menghea nafas.
"Itu memang terdengar sangat mudah tetapi tidak sesederhana itu. Kamu tau berapa tahun yang Abang butuhkan untuk membuat toko ino seperti sekarang? Kamu tau berapa miliar keringat yang keluar dari tubuh Abang untuk mempertahankan toko ini? Kamu tau seberapa besar kerja keras Abang untuk bisa menafkahi istri dan anak Abang dari toko ini? Sudahlah...kuliah atau tidak kita tetap sama dibumi ini, sama -sama manusia dan yang paling kita butihkan dibumi adalah biaya hidup, mau kamu kuliah atau tidak kamu pasti akan membutuhkam biaya hidup".

Itulah kata-kata telak yang diucapkan bosku yang membuat aku menangis semalaman setelah itu. Aku mencoba membantah perkataan bosku dengan argumentasi yang lain tetapi dalampikiran realitasku aku justru setuju dan mengiyakan fakta tersebut. Fakta bahwa pada akhirnya setiap orang akan membutuhkan biaya hidup. Baik itu lulusan kuliah atau tidak.

Detik berdetak, menit berlalu, jam berganti, Hari beranjak dan bulan semakin mengakhiri tahun, tidak ada perbedaan dari hidupku. Aku tetap bergelut dengan mimpi yang ingin kucapai dan kenyataan yang membelenggu. Aku tetap berharap pada Allah supaya mimpiku menjadi kenyataan, mimpiku untuk menjadi seorang mahasiswa.

Hingga suatu hari saat aku pulang dari membeli makan siang, hp ku berdering. Seseorang menelponku dan ternyata adalah guruku saat SMA. Dia menanyakan kondisi dan posisi diriku. Selanjutnya dia mengatakan sesuatu yang melayangkan hati dan menggetarkan jantung.

Dia mengatakan aku lulus dan diterima disalah satu perguruan swasta. Aku bingung dan menanyakan lebih jelas maksudnya. Kemudian guru ku itu mengatakan bahwa dia mendafyarkan diriku lewat jalur beasiswa diperguruan tersebut, beliau mendaftarkan dengan modal nilai-nilai diraport dan ijazahku. Beliau mengatakn prosesnya memang lambat dan sedikit lama. Beliau menegaskan bahwa aku diterima dan bisa menjadi mahasiswa diperguruan tinggi swasta tersebut bermodal nilai-nilai yang aku dapatkan dengan perjuangan mati-matian saat masih sekolah.

Ditengah teriknya siang didepok hari itu, kemarau dimataku berakhir disambut air mata haru seketika.

Apakah kamu bisa menebak bagaimana perasaanku saat itu?
Apakah kamu bisa memberikan jawaban padaku tentang apakah itu keajaiban dari terkabulnya doa-doa atau hasil kerja keras seorang pemimpi yang ingin merengkuh hak hidup mimpinya?

Komentar

  1. Terus semangat, bagian dari pendewasaan

    BalasHapus
  2. Pendidikan yang tinggi menjadi penting demi meraih impian yang tinggi, untuk merain impian yang tinggi harus ada usaha yang tinggi pula. Terima kasih pesannya

    BalasHapus

Posting Komentar