Mimpi dan kenyataan
Apakah setiap orang mempunyai mimpi?
Maksudku mimpi tentang harapan-harapan yang dia ingin capai dimasa depan dalam hidupnya.
Bisa dikatakan bukan bahwa mungkin semua orang memiliki mimpi untuknya masing-masing yang ingin dia realisasikan. yang menjadi pertanyaan kedua adalah bahwa jalan yang setiap orang raih untuk menempuh mimpi itu yang akan berbeda satu sama lain. Mungkin ada yang lebib mudah merealisasikan mimpinya ada juga yang harus berusaha lebih keras.
Dan saat kamu tanya ada di golongan mana saya, jawabannya adalah ada digolongan kedua. Harus berusaha lebih keras.
Ya. Saya adalah orang yang harus berada pada situasi berusaha lebih keras untuk merealisasikan mimpi. Lalu apa mimpi saya? Apa harapan saya? Apa yang ingin saya realisasikan? Jawabannya adalah menjadi seorang mahasiswa.
Hal itu terdengar biasa dan wah sekali tergantung siapa yang memaknai. Kalo kita berada pada keluarga yang berkecukupan dan mampu mengkuliahlan pasti hal itu akan mudah direalisasikan. Tetapi bagaimana jika sebaliknya, jika kita berada pada keluarga kecil yang serba berkecukupan.
Keluarga yang bahkan kehilangan tameng pertahanannya. Keluarga yang kehilangan kepalanya. Kelurga yang sudah pincang karena tidak lagi memiliki seorang sosok ayah.
Itu adalah keluargaku. Mimpiku yang aku gantungkan setingga angkasa itu mulai aku coba realisasikan dari sejak aku masih sekolah SMA. Setelah banyak sekali mahasiswa yang datang ke sekolahku untuk mensosialisasikan kampusnya masing-masing. Hingga pada satu titik akupun terhipnotis dan hatiku mengatakan aku harus menjadi seorang Mahasiswa kelak.
Lalu apalah daya keluargaku waktu itu. Saat ayahku masih hidup dia hanyalah seorang pedagang perabotan rumah tangga yang bahkan tidak bisa berdagang setiap saat karena sakit paru-paru basah yang dideritanya. Karena tekadku sangat kuat dan bulat serta melihat kondisi keluargaku saat itu. Hingga aku memutuskan satu hal, aku harus berusaha lebih keras.
Aku lebih rajin belajar. Aku lebih rajin menghapal. Bekerja kelompok. Lebih rajin sekolah dan semua hal yang bisa membuat aku menjadi seorang mahasiwa. Tetapi ternyata setelah pelulusan sekolah semua hal yang aku lakukan masih belum bisa membalikan keadaan dan belum bisa memberi dampak apapun kepadaku.
Hingga beberapa bulan statusku menjadi alumni dari sekolahku, tidak ada perkembangan berarti, yang ada justrulah keadaan keluarga yang semakin menyiksa, menyiksa mimpi dan batinku. Penyakit ayahku semakin parah dan keuangan keluarga kami semakin merosot drastis, aku begitu terpuruk dengan semua keadaan itu, batinku sempat goyah. Hingga tibala hari itu, hari dimana Ayahku meninggalkan dunia ini. Hari dimana batinku benar-benar berguncang hebat. Semua seakan sirna, bahagia, harapan dan mimpi iti seaka semakin pergi menjauhiku dengan cepatnya.
Setelah semua kejadian yang aku alami itu, aku selalu berusaha menguatkan raga dan batin. Setiap kali aku selalu meminta doa kepada Sang Maha Pencipta tentang kebahagiaan dan harapan-harapan yang aku tautakan dalam hidup. Tentang semua mimpi yang ingin aku realisasikan. Mimpiku yang ingin menjadi seorang Mahasiswa ditengah kondisiku sekarang sebagai tulang punggung keluarga yang harus membiayi hidupku dan ibuku.
Ditengah kesibukan pekerjaanku ditoko sepatu waktu itu, aku selalu berharap dan berharap. Semoga semua jerih payahku dan kondisiku bisa perlahan berubah diirngi bahagia dan mimpi terealisasi. Aku yakin. Aku yakin. Aku yakin.
Maksudku mimpi tentang harapan-harapan yang dia ingin capai dimasa depan dalam hidupnya.
Bisa dikatakan bukan bahwa mungkin semua orang memiliki mimpi untuknya masing-masing yang ingin dia realisasikan. yang menjadi pertanyaan kedua adalah bahwa jalan yang setiap orang raih untuk menempuh mimpi itu yang akan berbeda satu sama lain. Mungkin ada yang lebib mudah merealisasikan mimpinya ada juga yang harus berusaha lebih keras.
Dan saat kamu tanya ada di golongan mana saya, jawabannya adalah ada digolongan kedua. Harus berusaha lebih keras.
Ya. Saya adalah orang yang harus berada pada situasi berusaha lebih keras untuk merealisasikan mimpi. Lalu apa mimpi saya? Apa harapan saya? Apa yang ingin saya realisasikan? Jawabannya adalah menjadi seorang mahasiswa.
Hal itu terdengar biasa dan wah sekali tergantung siapa yang memaknai. Kalo kita berada pada keluarga yang berkecukupan dan mampu mengkuliahlan pasti hal itu akan mudah direalisasikan. Tetapi bagaimana jika sebaliknya, jika kita berada pada keluarga kecil yang serba berkecukupan.
Keluarga yang bahkan kehilangan tameng pertahanannya. Keluarga yang kehilangan kepalanya. Kelurga yang sudah pincang karena tidak lagi memiliki seorang sosok ayah.
Itu adalah keluargaku. Mimpiku yang aku gantungkan setingga angkasa itu mulai aku coba realisasikan dari sejak aku masih sekolah SMA. Setelah banyak sekali mahasiswa yang datang ke sekolahku untuk mensosialisasikan kampusnya masing-masing. Hingga pada satu titik akupun terhipnotis dan hatiku mengatakan aku harus menjadi seorang Mahasiswa kelak.
Lalu apalah daya keluargaku waktu itu. Saat ayahku masih hidup dia hanyalah seorang pedagang perabotan rumah tangga yang bahkan tidak bisa berdagang setiap saat karena sakit paru-paru basah yang dideritanya. Karena tekadku sangat kuat dan bulat serta melihat kondisi keluargaku saat itu. Hingga aku memutuskan satu hal, aku harus berusaha lebih keras.
Aku lebih rajin belajar. Aku lebih rajin menghapal. Bekerja kelompok. Lebih rajin sekolah dan semua hal yang bisa membuat aku menjadi seorang mahasiwa. Tetapi ternyata setelah pelulusan sekolah semua hal yang aku lakukan masih belum bisa membalikan keadaan dan belum bisa memberi dampak apapun kepadaku.
Hingga beberapa bulan statusku menjadi alumni dari sekolahku, tidak ada perkembangan berarti, yang ada justrulah keadaan keluarga yang semakin menyiksa, menyiksa mimpi dan batinku. Penyakit ayahku semakin parah dan keuangan keluarga kami semakin merosot drastis, aku begitu terpuruk dengan semua keadaan itu, batinku sempat goyah. Hingga tibala hari itu, hari dimana Ayahku meninggalkan dunia ini. Hari dimana batinku benar-benar berguncang hebat. Semua seakan sirna, bahagia, harapan dan mimpi iti seaka semakin pergi menjauhiku dengan cepatnya.
Setelah semua kejadian yang aku alami itu, aku selalu berusaha menguatkan raga dan batin. Setiap kali aku selalu meminta doa kepada Sang Maha Pencipta tentang kebahagiaan dan harapan-harapan yang aku tautakan dalam hidup. Tentang semua mimpi yang ingin aku realisasikan. Mimpiku yang ingin menjadi seorang Mahasiswa ditengah kondisiku sekarang sebagai tulang punggung keluarga yang harus membiayi hidupku dan ibuku.
Ditengah kesibukan pekerjaanku ditoko sepatu waktu itu, aku selalu berharap dan berharap. Semoga semua jerih payahku dan kondisiku bisa perlahan berubah diirngi bahagia dan mimpi terealisasi. Aku yakin. Aku yakin. Aku yakin.
Never give up!
BalasHapusAnd work hard aku ingin melihat mu sukses,,,
Chumungudh ea... πͺπΎπ€©
BalasHapusSemangat, jangan pernah patah arang
BalasHapus